Unsupported Screen Size: The viewport size is too small for the theme to render properly.

Kategori: Acara

(Workshop) Agile Contract di Surabaya

(Workshop) Agile Contract di Surabaya

Apakah anda Software Vendor / Software House ?

Kalau iya, mungkin anda familiar dengan percakapan seperti ini =
Client (C)
Vendor (V)

 

Yuuk, as a Professional Software Vendor, sebelum bersepakat kerja sama,
let’s educate them with AGILE CONTRACT,
Sebuah cara yang adil, transparan, risk sharing, bisa menyadarkan client, & potentially release a valuable & quality software

Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Let’s spread this movement!

#BeProfessionalSoftwareVendor

 

 

 


DAFTAR MATERI

  • Why Agile
  • Agility from the Perspective of Procurement
  • Agility from the Perspective of Software Vendor
  • Problem with Traditional Fixed-Price Contract 
  • Type of Agile Contract
    • Target Cost
    • Incremental Delivery
    • Time & Material
    • Value Based
  • Tendering Based on Agile Contract
  • Negotiation of an Agile Contract
  • Case Study Agile Contact in Indonesia
  • Sample of Simple Agile Contract

 

LIMITED SEAT.

Investment Fee : Only IDR 200.000

Transfer ke :
BCA
8290859256
a.n. ICHSAN

Pendaftaran & Upload Bukti Pembayaran via form INI

CP = Ichsan (081230724246)

 

 

Liputan Scrum Coaching Retreat 08/2018

Liputan Scrum Coaching Retreat 08/2018

Pada tanggal 25 – 26 Agustus 2018 telah dilakukan kegiatan Scrum Coaching Retreat di Imah Seniman Resort, Lembang, Jawa Barat yang dihadiri oleh sejumlah coach, Scrum caretaker, dan community leader dari berbagai latar perusahaan dan organisasi. Acara ini diadakan guna mengembangkan kapabilitas coaching and facilitation para Scrum caretaker dan Scrum community leader yang ada di Indonesia agar mereka dapat menjadi agen perubahan di ruang lingkup di mana mereka berada. Acara ini menjadi media untuk saling berbagi pengalaman dan pemahaman terkait proses implementasi Scrum dan berbagai tantangan yang muncul. Pelaksanaannya dilakukan dengan konsep open space dibantu oleh beberapa orang peserta yang ikut menjadi fasilitator dengan mengangkat beberapa tema pembahasan untuk kemudian setiap peserta saling berbagi sudut pandang dan pengetahuan terhadap hal yang sedang menjadi pokok pembahasan sehingga diperoleh suatu solusi yang dibangun dari bermacam perspektif.

Acara ini dibuka oleh Coach Joshua Partogi yang membahas terkait learning organization dan mental block yang muncul dalam implementasi Scrum pada organisasi. Adanya kecenderungan pola pikir single loop learning ketika suatu organisasi menghadapi permasalahan dengan hanya melihat permasalahan terdapat dari sisi kecakapan pekerja. Pola ini berasumsi bahwa hanya dengan memberikan pelatihan terhadap pekerja tersebut, permasalahan yang muncul dapat diatasi. Pada kenyataannya, hal ini  tidak menyentuh root cause dari permasalahan yang ada. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan juga perbaikan pada mental model bagaimana organisasi menghadapi permasalahan, hal ini dinamakan double loop learning. Hendaknya yang menjadi fokus dan main goal adalah speed of learning dari organisasi tersebut dan bukan hanya sekedar output yang dihasilkan.

 

Untuk sesi selanjutnya kemudian dilanjutkan oleh Coach Christine Natalia yang menjadi fasilitator untuk pembahasan Coaching Management. Pada sesi ini dibahas terkait beberapa permasalahan dan pendekatan yang bisa dilakukan untuk melakukan coaching terhadap c-level pada suatu organisasi. Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab adalah culture, mindset, control, mental block, lack of trust, atau tidak adanya transparansi. Pendekatan dapat dilakukan secara personal kepada management dengan melakukan coaching kepada mereka dengan memanfaatkan relationship map dan memahami karakter coachee serta melakukan transparansi terkait permasalahan yang dialami oleh organisasi sehingga organisasi tersebut dapat menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi tantangan yang muncul.

Coach Kevin Yudistira juga ikut menjadi fasilitator untuk melakukan pembahasan terkait Spotify model. Spotify model adalah suatu bentuk evolusi dari bentuk maturity team. Permasalahan dapat muncul ketika melakukan implementasi terhadap spotify model terhadap team yang belum mature sehingga implementasi hanya sebatas terhadap struktur dan mekanikalnya saja dengan tidak menitikberatkan terhadap proses evolusi pembelajaran dan pemahaman team terhadap konsep agile itu sendiri.

 

Sesi pada hari pertama ditutup dengan pembahasan mengenai Conflict Management yang difasilitasi oleh Coach Hanin Kusuma dan “Apakah suatu organisasi membutuhkan Scrum Master atau tidak ?” oleh Coach Artanto Ishaam. Pada pembahasan Conflict Management, dijelaskan mengenai proses self awareness terkait konflik yang terjadi dengan menggunakan Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI), yaitu competing, collaborating, avoiding, accommodating, dan compromise. Untuk tema “Apakah suatu organisasi membutuhkan Scrum Master atau tidak ?”, Coach Pepe memberikan pandangan bahwa jika fungsi scrum master masih dapat tergantikan dengan hal lain, maka kemungkinan besar organisasi tersebut belum membutuhkan scrum master  dan begitu pula sebaliknya.

Pada hari kedua, sesi dibuka oleh Coach Eduardus dengan memfasilitasi pembahasan terkait implementasi Behaviour Driven Development (BDD) dan Test Driven Development (TDD). Pada sesi ini dibahas terkait manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan implementasi BDD serta TDD. Diantaranya adalah untuk menjaga stabilitas kode yang di-deliver serta menjaga value yang di deliver dari tiap increment yang dihasilkan.

 

Kemudian dilanjutkan oleh 2 pembahasan yang dilakukan secara paralel yang difasilitasi oleh Coach Ihsan Fauzi Rahman terkait Implementasi Scrum Studio dan oleh Coach Adit terkait building feedback. Pada sesi yang difasilitasi Coach Ihsan dibahas terkait cultural change serta perubahan mental model menjadi lebih mengedepankan empirisme, openness terhadap perubahan, serta melihat journey to agility sebagai bentuk continuous learning. Bentuk Scrum Studio sendiri lebih kepada bentuk proof of concept terhadap implementasi scrum pada sebuah organisasi. Implementasi dilakukan dengan membuat sebuah bagian yang mengimplementasikan scrum di dalam organisasi yang besar yang tidak menerapkan scrum, dimana bagian tersebut memiliki otonomi terhadap keputusan yang diambil.

Pada pembahasan terkait Building Feedback yang difasilitasi oleh Coach Aditya, dibahas terkait pendekatan untuk meng-empower team dengan menggunakan metoda yang digunakan oleh Tim Scott. Terdapat 4 kecenderungan yang muncul yaitu:

  1. Radical candor : dengan mengedepankan care personally dan melakukan challenge directly terhadap person
  2. Ruinous empathy : peduli dengan yang bersangkutan, namun tidak menyampaikan terkait permasalahan yang ada
  3. Manipulative insincerity: tidak peduli dan tidak menyampaikan permasalahan secara langsung kepada yang bersangkutan.
  4. Obnoxious aggression: dengan meng challenge person secara langsung tanpa memperhatikan kepedulian terhadap yang bersangkutan

Pendekatan yang diambil hendaknya pendekatan yang memiliki kecenderungan ke dalam radical candor. Pembahasan terkait poin radical candor ini kemudian di-emphasise oleh coah Edu. Pada sesi ini juga dibahas terkait pendekatan HHIIP (Honest, Humble, Immediate, In Person, Private) agar penyampaian feedback efektif.

Coach Dayu Bagus juga ikut memfasilitasi terkait teknik melakukan coaching. Di dalam coaching itu sendiri juga terdapat kegiatan teaching dan mentoring terhadap coachee. Namun, untuk kegiatan konseling harus dilakukan hati-hati karena membutuhkan ketrampilan di bidang ilmu psikologi. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan coaching adalah kesiapan mental coach, step back untuk menjadi pengamat terhadap coachee untuk menjaga netralitas ketika melakukan coaching, listen-understand, dan memanfaatkan powerfull question agar diperoleh self discovery dari coachee.

 

Acara ditutup oleh Coach Firman Agustian yang memfasilitasi pembahasan terkait cara mengukur performa scrum team. Pengukuran bertujuan untuk melihat kesehatan suatu organisasi dan melihat apakah gol dari tiap individu align dengan bisnis organisasi atau tidak. Pengukuran sebaiknya  dilakukan terhadap komitmen tiap individu dan team gol dengan melihat market acceptance terhadap produk yang di deliver dan fokus terhadap value dari produk yang dihasilkan.

Liputan ini ditulis oleh Satrio Ajie Wijaya. Foto-foto diambil oleh Ihsan Fauzi Rahman.

Female Scrum Master Meetup Juli 2018

Female Scrum Master Meetup Juli 2018

Hi Ladies. Komunitas Scrum di Indonesia memiliki komunitas khusus para Female Scrum Master yang bertujuan memperkuat lebih banyak wanita untuk menjadi Scrum Master dan servant leader yang hebat.

Tanggal 17 Juli 2018 nanti para Female Scrum Master akan ngumpul dan ngerumpiin Scrum. Topik yang akan dibahas kali ini adalah “Alternative Activities for Sprint Events and Team Building”. Kalau kamu seorang Scrum Master wanita, jangan lewatkan pertemuan kita kali ini. Jangan lupa bawa teman-temannya yang wanita lainnya. Untuk pendaftaran bisa hubungi Asyirini Fajrin atau Nila Puspita. See you Ladies.

* Female Scrum Master Community is a safe place for women to learn about Scrum where we empower each other to be awesome servant leaders who will change software delivery ecosystem in Indonesia.

Scrum Jakarta Meetup Juli 2018

Scrum Jakarta Meetup Juli 2018

Sudah menggunakan Scrum namun masih belum efektif karena masih ada salah pengertian tentang Scrum? Jangan lewatkan Scrum meetup Kamis ini 5 Juli 2018. Mari belajar untuk menggunakan Scrum sebagai alat untuk continuous improvement dan bergerak dari ScrumBut menuju ScrumAnd.

Jangan lupa untuk mendaftar dari sini ya: https://www.eventbrite.com/e/from-scrum-but-to-scrum-and-tickets-47675321169