Unsupported Screen Size: The viewport size is too small for the theme to render properly.

Blog

Pemikiran-pemikiran dari praktisi Scrum di Indonesia.

Blog

(Workshop) Agile Contract di Surabaya

(Workshop) Agile Contract di Surabaya

Apakah anda Software Vendor / Software House ?

Kalau iya, mungkin anda familiar dengan percakapan seperti ini =
Client (C)
Vendor (V)

 

Yuuk, as a Professional Software Vendor, sebelum bersepakat kerja sama,
let’s educate them with AGILE CONTRACT,
Sebuah cara yang adil, transparan, risk sharing, bisa menyadarkan client, & potentially release a valuable & quality software

Kalau bukan kita, siapa lagi?
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Let’s spread this movement!

#BeProfessionalSoftwareVendor

 

 

 


DAFTAR MATERI

  • Why Agile
  • Agility from the Perspective of Procurement
  • Agility from the Perspective of Software Vendor
  • Problem with Traditional Fixed-Price Contract 
  • Type of Agile Contract
    • Target Cost
    • Incremental Delivery
    • Time & Material
    • Value Based
  • Tendering Based on Agile Contract
  • Negotiation of an Agile Contract
  • Case Study Agile Contact in Indonesia
  • Sample of Simple Agile Contract

 

LIMITED SEAT.

Investment Fee : Only IDR 200.000

Transfer ke :
BCA
8290859256
a.n. ICHSAN

Pendaftaran & Upload Bukti Pembayaran via form INI

CP = Ichsan (081230724246)

 

 

Daftar Perusahaan Indonesia Pengguna Scrum

Daftar Perusahaan Indonesia Pengguna Scrum

Menurut salah satu dari 10 besar TED talk terbaik yang dibawakan oleh Daniel Pink, dan juga dijabarkan didalam bukunya Drive, Ternyata motivasi intrinsik lebih besar efeknya untuk manusia, terutama dalam dunia kerja. Uang atau kompensasi tetap penting, tapi bukanlah motivator atau driver no.1, Tapi lebih ke lingkungan kerja.

Salah satu yang didambakan oleh banyak orang, terutama di kalangan millenials adalah lingkungan kerja yang nyaman, lincah (agile), autonomy, high freewill (but not totally free), dan semacamnya. Atau dalam dunia Software Development kita bisa arahkan ke dalam pendekatan Agile, Maka dari itu kami akan memberikan daftar perusahaan-perusahaan yang menjalankan Agile values & principle, terutatama dengan Scrum sebagai framework nya.

Mungkin bisa berguna bagi anda yang mencari tantangan baru di rumah yang secara “arsitektur” sudah terbukti menjadi pilihan utama di banyak perusahaan dunia. Berikut daftar perusahaan di Indonesia yang sudah menjankan Scrum :

  1. Allianz
  2. Alterra
  3. Astra International
  4. Axa
  5. BCA
  6. BTPN
  7. Bukalapak
  8. Commonwealth Bank
  9. Doku
  10. GVM Network
  11. HappyFresh
  12. Home Credit
  13. Hooq
  14. Infokes
  15. Mekari
  16. Nusatrip
  17. OCBC
  18. Pegadaian
  19. Ralali
  20. Rumah123
  21. Telkom (Amoeba)
  22. Tiket.com
  23. Tokopedia
  24. XL Axiata

 

Disclaimer :

  1. Data Survey kami dapatkan dan verifikasi dari Scrum Team perusahaan yang bersangkutan sampai bulan Juni 2019. Dan terus kami perbaharui setiap bulan (living article).
  2. Kami tidak mengukur kualitas penerapan Scrum di perusahaan diatas, jadi kami tidak bertanggung jawab mengenai Kualitas Scrum pada perusahaan diatas benar-benar diterapkan dengan relijius atau hanya sekedar marketing gimmick ✌🏻
  3. Jika perusahaan anda ingin di tampilkan di daftar diatas, silahkan mengisi form disini

 

Liputan Scrum Coaching Retreat 08/2018

Liputan Scrum Coaching Retreat 08/2018

Pada tanggal 25 – 26 Agustus 2018 telah dilakukan kegiatan Scrum Coaching Retreat di Imah Seniman Resort, Lembang, Jawa Barat yang dihadiri oleh sejumlah coach, Scrum caretaker, dan community leader dari berbagai latar perusahaan dan organisasi. Acara ini diadakan guna mengembangkan kapabilitas coaching and facilitation para Scrum caretaker dan Scrum community leader yang ada di Indonesia agar mereka dapat menjadi agen perubahan di ruang lingkup di mana mereka berada. Acara ini menjadi media untuk saling berbagi pengalaman dan pemahaman terkait proses implementasi Scrum dan berbagai tantangan yang muncul. Pelaksanaannya dilakukan dengan konsep open space dibantu oleh beberapa orang peserta yang ikut menjadi fasilitator dengan mengangkat beberapa tema pembahasan untuk kemudian setiap peserta saling berbagi sudut pandang dan pengetahuan terhadap hal yang sedang menjadi pokok pembahasan sehingga diperoleh suatu solusi yang dibangun dari bermacam perspektif.

Acara ini dibuka oleh Coach Joshua Partogi yang membahas terkait learning organization dan mental block yang muncul dalam implementasi Scrum pada organisasi. Adanya kecenderungan pola pikir single loop learning ketika suatu organisasi menghadapi permasalahan dengan hanya melihat permasalahan terdapat dari sisi kecakapan pekerja. Pola ini berasumsi bahwa hanya dengan memberikan pelatihan terhadap pekerja tersebut, permasalahan yang muncul dapat diatasi. Pada kenyataannya, hal ini  tidak menyentuh root cause dari permasalahan yang ada. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dibutuhkan juga perbaikan pada mental model bagaimana organisasi menghadapi permasalahan, hal ini dinamakan double loop learning. Hendaknya yang menjadi fokus dan main goal adalah speed of learning dari organisasi tersebut dan bukan hanya sekedar output yang dihasilkan.

 

Untuk sesi selanjutnya kemudian dilanjutkan oleh Coach Christine Natalia yang menjadi fasilitator untuk pembahasan Coaching Management. Pada sesi ini dibahas terkait beberapa permasalahan dan pendekatan yang bisa dilakukan untuk melakukan coaching terhadap c-level pada suatu organisasi. Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab adalah culture, mindset, control, mental block, lack of trust, atau tidak adanya transparansi. Pendekatan dapat dilakukan secara personal kepada management dengan melakukan coaching kepada mereka dengan memanfaatkan relationship map dan memahami karakter coachee serta melakukan transparansi terkait permasalahan yang dialami oleh organisasi sehingga organisasi tersebut dapat menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasi tantangan yang muncul.

Coach Kevin Yudistira juga ikut menjadi fasilitator untuk melakukan pembahasan terkait Spotify model. Spotify model adalah suatu bentuk evolusi dari bentuk maturity team. Permasalahan dapat muncul ketika melakukan implementasi terhadap spotify model terhadap team yang belum mature sehingga implementasi hanya sebatas terhadap struktur dan mekanikalnya saja dengan tidak menitikberatkan terhadap proses evolusi pembelajaran dan pemahaman team terhadap konsep agile itu sendiri.

 

Sesi pada hari pertama ditutup dengan pembahasan mengenai Conflict Management yang difasilitasi oleh Coach Hanin Kusuma dan “Apakah suatu organisasi membutuhkan Scrum Master atau tidak ?” oleh Coach Artanto Ishaam. Pada pembahasan Conflict Management, dijelaskan mengenai proses self awareness terkait konflik yang terjadi dengan menggunakan Thomas-Kilmann Conflict Mode Instrument (TKI), yaitu competing, collaborating, avoiding, accommodating, dan compromise. Untuk tema “Apakah suatu organisasi membutuhkan Scrum Master atau tidak ?”, Coach Pepe memberikan pandangan bahwa jika fungsi scrum master masih dapat tergantikan dengan hal lain, maka kemungkinan besar organisasi tersebut belum membutuhkan scrum master  dan begitu pula sebaliknya.

Pada hari kedua, sesi dibuka oleh Coach Eduardus dengan memfasilitasi pembahasan terkait implementasi Behaviour Driven Development (BDD) dan Test Driven Development (TDD). Pada sesi ini dibahas terkait manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan implementasi BDD serta TDD. Diantaranya adalah untuk menjaga stabilitas kode yang di-deliver serta menjaga value yang di deliver dari tiap increment yang dihasilkan.

 

Kemudian dilanjutkan oleh 2 pembahasan yang dilakukan secara paralel yang difasilitasi oleh Coach Ihsan Fauzi Rahman terkait Implementasi Scrum Studio dan oleh Coach Adit terkait building feedback. Pada sesi yang difasilitasi Coach Ihsan dibahas terkait cultural change serta perubahan mental model menjadi lebih mengedepankan empirisme, openness terhadap perubahan, serta melihat journey to agility sebagai bentuk continuous learning. Bentuk Scrum Studio sendiri lebih kepada bentuk proof of concept terhadap implementasi scrum pada sebuah organisasi. Implementasi dilakukan dengan membuat sebuah bagian yang mengimplementasikan scrum di dalam organisasi yang besar yang tidak menerapkan scrum, dimana bagian tersebut memiliki otonomi terhadap keputusan yang diambil.

Pada pembahasan terkait Building Feedback yang difasilitasi oleh Coach Aditya, dibahas terkait pendekatan untuk meng-empower team dengan menggunakan metoda yang digunakan oleh Tim Scott. Terdapat 4 kecenderungan yang muncul yaitu:

  1. Radical candor : dengan mengedepankan care personally dan melakukan challenge directly terhadap person
  2. Ruinous empathy : peduli dengan yang bersangkutan, namun tidak menyampaikan terkait permasalahan yang ada
  3. Manipulative insincerity: tidak peduli dan tidak menyampaikan permasalahan secara langsung kepada yang bersangkutan.
  4. Obnoxious aggression: dengan meng challenge person secara langsung tanpa memperhatikan kepedulian terhadap yang bersangkutan

Pendekatan yang diambil hendaknya pendekatan yang memiliki kecenderungan ke dalam radical candor. Pembahasan terkait poin radical candor ini kemudian di-emphasise oleh coah Edu. Pada sesi ini juga dibahas terkait pendekatan HHIIP (Honest, Humble, Immediate, In Person, Private) agar penyampaian feedback efektif.

Coach Dayu Bagus juga ikut memfasilitasi terkait teknik melakukan coaching. Di dalam coaching itu sendiri juga terdapat kegiatan teaching dan mentoring terhadap coachee. Namun, untuk kegiatan konseling harus dilakukan hati-hati karena membutuhkan ketrampilan di bidang ilmu psikologi. Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan coaching adalah kesiapan mental coach, step back untuk menjadi pengamat terhadap coachee untuk menjaga netralitas ketika melakukan coaching, listen-understand, dan memanfaatkan powerfull question agar diperoleh self discovery dari coachee.

 

Acara ditutup oleh Coach Firman Agustian yang memfasilitasi pembahasan terkait cara mengukur performa scrum team. Pengukuran bertujuan untuk melihat kesehatan suatu organisasi dan melihat apakah gol dari tiap individu align dengan bisnis organisasi atau tidak. Pengukuran sebaiknya  dilakukan terhadap komitmen tiap individu dan team gol dengan melihat market acceptance terhadap produk yang di deliver dan fokus terhadap value dari produk yang dihasilkan.

Liputan ini ditulis oleh Satrio Ajie Wijaya. Foto-foto diambil oleh Ihsan Fauzi Rahman.

Product Owner, the Captain of the Product

Product Owner, the Captain of the Product

Siapa sih Product Owner itu? Banyak anggapan selama ini kalau Product Owner adalah Business Analyst. Banyak juga anggapan kalau Product Owner ini adalah proxy sebagaimana yang dilakukan oleh product manager atau project manager. Apakah Product Manager sama dengan Product Owner? Kalau tidak, apa bedanya? Kali ini saya akan berbagi tingkatan Product Owner dari tingkatan terendah hingga tingkatan tertinggi. Kira-kira dalam tingkatan tertinggi, Product Owner itu seperti apa ya?

Silahkan baca artikel saya di sini.

Mencari Teknik Pengembangan “Agile” Terbaik dengan Scrum agar menjadi Agile

Mencari Teknik Pengembangan “Agile” Terbaik dengan Scrum agar menjadi Agile

“Agile” sangat erat kaitannya dengan pengembangan perangkat lunak (Agile Software Development), meskipun saat ini ramai dibicarakan di luar pengembangan perangkat lunak juga. Berbicara definisi “Agile”, saat ini banyak orang mendefinisikan berdasarkan versinya masing-masing. Namun ketika merujuk kepada Agile Manifesto, Agile bisa dibilang sekumpulan nilai dan prinsip yang diterapkan ketika mengembangkan perangkat lunak.
Kali ini saya berbagi sedikit pengalaman (karna pengalaman saya memang masih sedikit :D) dalam mengembangkan perangkat lunak dengan mengadopsi Scrum dan metodologi. Loh bukannya Scrum itu metodologi ya? Ya bukan, silahkan baca definisinya di sini.
Kurang lebih setahun yang lalu, saya bersama tim mengembangkan sebuah produk perangkat lunak dari nol hingga saat ini pengembangan masih berlanjut dan produk terus disempurnakan untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Produk yang dikembangkan tersebut sebenarnya bukanlah produk yang benar-benar baru, tetapi produk yang dikembangkan untuk menyempurnakan produk sebelumnya yang sudah berjalan kurang lebih 10 tahun dan sudah ada ribuan organisasi sebagai pelanggannya. Penyempurnaan yang diharapkan dari pemilik produk saat itu meliputi teknologi, keamanan dan keindahan tampilan antar-muka. Namun saya melihat sisi lain yang justru paling wajib dibenahi dahulu yaitu “Proses Pengembangan Perangkat Lunak” yang berjalan. Membangun produk dengan mindset proyek adalah hal yang mengganjal bagi saya begitupun bagi rekan-rekan pengembang itu sendiri (Baca juga: Manajemen Proyek dalam Sudut Pandang Scrum). Akhirnya semua orang bahkan seluruh elemen organisasi sepakat untuk meninjau ulang visi dan misi serta belajar (kembali) kenapa harus mengembangkan produk yang berkualitas dan bagaimana mengembangkan produk berkualitas tersebut.
Disini kesempatan bagi saya untuk mengenalkan Agile Software Development dengan Scrum di lingkungan kerja. Lalu manajemen merespon sangat positif dan yang terpenting ada harapan baru untuk para pengembang perangkat lunak agar mereka difasilitasi dalam berkreasi dan mengembangkan kemampuan mereka lebih baik dibandingkan dengan cara lama. Akhirnya Scrum Team dibentuk lalu Sprint-1 dimulai. Namun tidak semata-mata langsung Adopsi Scrum sepenuhnya, tapi bertahap, sebagaimana pilar dasar dalam Scrum : transparansi-inspeksi-adaptasi.
Seiring berjalannya waktu dalam mengadopsi Scrum. Tim Pengembang menjadi banyak belajar bahkan sebenarnya mengimplementasikan praktik dan teknik lain dalam pengembangan produk, seperti : Lean Startup, Test-Driven Development (TDD & ATDD), Spotify Model, Devops. Ini dilakukan secara alami dan muncul dari tim itu sendiri, karena Scrum memfasilitasi tim untuk terus belajar (Continuous Learning & Improvement). Bahkan beberapa orang sebenarnya tidak sadar kalau mereka banyak menerapkan metodologi di proses pengembangan produk tersebut. Ya mereka kenalnya hanya Scrum karna itu yang saya kenalkan di awal.

Female Scrum Master Meetup Juli 2018

Female Scrum Master Meetup Juli 2018

Hi Ladies. Komunitas Scrum di Indonesia memiliki komunitas khusus para Female Scrum Master yang bertujuan memperkuat lebih banyak wanita untuk menjadi Scrum Master dan servant leader yang hebat.

Tanggal 17 Juli 2018 nanti para Female Scrum Master akan ngumpul dan ngerumpiin Scrum. Topik yang akan dibahas kali ini adalah “Alternative Activities for Sprint Events and Team Building”. Kalau kamu seorang Scrum Master wanita, jangan lewatkan pertemuan kita kali ini. Jangan lupa bawa teman-temannya yang wanita lainnya. Untuk pendaftaran bisa hubungi Asyirini Fajrin atau Nila Puspita. See you Ladies.

* Female Scrum Master Community is a safe place for women to learn about Scrum where we empower each other to be awesome servant leaders who will change software delivery ecosystem in Indonesia.