Unsupported Screen Size: The viewport size is too small for the theme to render properly.

Penulis: Ihsan Fauzi Rahman

Mencari Teknik Pengembangan “Agile” Terbaik dengan Scrum agar menjadi Agile

Mencari Teknik Pengembangan “Agile” Terbaik dengan Scrum agar menjadi Agile

“Agile” sangat erat kaitannya dengan pengembangan perangkat lunak (Agile Software Development), meskipun saat ini ramai dibicarakan di luar pengembangan perangkat lunak juga. Berbicara definisi “Agile”, saat ini banyak orang mendefinisikan berdasarkan versinya masing-masing. Namun ketika merujuk kepada Agile Manifesto, Agile bisa dibilang sekumpulan nilai dan prinsip yang diterapkan ketika mengembangkan perangkat lunak.
Kali ini saya berbagi sedikit pengalaman (karna pengalaman saya memang masih sedikit :D) dalam mengembangkan perangkat lunak dengan mengadopsi Scrum dan metodologi. Loh bukannya Scrum itu metodologi ya? Ya bukan, silahkan baca definisinya di sini.
Kurang lebih setahun yang lalu, saya bersama tim mengembangkan sebuah produk perangkat lunak dari nol hingga saat ini pengembangan masih berlanjut dan produk terus disempurnakan untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen. Produk yang dikembangkan tersebut sebenarnya bukanlah produk yang benar-benar baru, tetapi produk yang dikembangkan untuk menyempurnakan produk sebelumnya yang sudah berjalan kurang lebih 10 tahun dan sudah ada ribuan organisasi sebagai pelanggannya. Penyempurnaan yang diharapkan dari pemilik produk saat itu meliputi teknologi, keamanan dan keindahan tampilan antar-muka. Namun saya melihat sisi lain yang justru paling wajib dibenahi dahulu yaitu “Proses Pengembangan Perangkat Lunak” yang berjalan. Membangun produk dengan mindset proyek adalah hal yang mengganjal bagi saya begitupun bagi rekan-rekan pengembang itu sendiri (Baca juga: Manajemen Proyek dalam Sudut Pandang Scrum). Akhirnya semua orang bahkan seluruh elemen organisasi sepakat untuk meninjau ulang visi dan misi serta belajar (kembali) kenapa harus mengembangkan produk yang berkualitas dan bagaimana mengembangkan produk berkualitas tersebut.
Disini kesempatan bagi saya untuk mengenalkan Agile Software Development dengan Scrum di lingkungan kerja. Lalu manajemen merespon sangat positif dan yang terpenting ada harapan baru untuk para pengembang perangkat lunak agar mereka difasilitasi dalam berkreasi dan mengembangkan kemampuan mereka lebih baik dibandingkan dengan cara lama. Akhirnya Scrum Team dibentuk lalu Sprint-1 dimulai. Namun tidak semata-mata langsung Adopsi Scrum sepenuhnya, tapi bertahap, sebagaimana pilar dasar dalam Scrum : transparansi-inspeksi-adaptasi.
Seiring berjalannya waktu dalam mengadopsi Scrum. Tim Pengembang menjadi banyak belajar bahkan sebenarnya mengimplementasikan praktik dan teknik lain dalam pengembangan produk, seperti : Lean Startup, Test-Driven Development (TDD & ATDD), Spotify Model, Devops. Ini dilakukan secara alami dan muncul dari tim itu sendiri, karena Scrum memfasilitasi tim untuk terus belajar (Continuous Learning & Improvement). Bahkan beberapa orang sebenarnya tidak sadar kalau mereka banyak menerapkan metodologi di proses pengembangan produk tersebut. Ya mereka kenalnya hanya Scrum karna itu yang saya kenalkan di awal.

Scrum dan Profesionalisme

Scrum dan Profesionalisme

Tahun 2017 lalu saya melibatkan diri dengan rekan-rekan komunitas Scrum Indonesia untuk mengadakan sebuah acara konferensi tingkat nasional tentang Scrum yaitu Scrum Day Bandung 2017.  Saat itu scrum masih tidak se-fenomenal sekarang, dan terbatas pada perusahan IT dan pengembang perangkat lunak saja. Sehingga para relawan acara memutuskan untuk mengambil satu tema yang berkaitan dengan pengembangan perangkat lunak, “Profesionalism in Software Development”. Hingga saat ini pembahasan mengenai profesionalisme seorang pengembang perangkat lunak masih cukup hangat diperbincangkan. Karena hampir setiap orang punya definisi sendiri tentang profesionalisme.

Silahkan baca selengkapnya disini…

Memanusiakan manusia dengan Scrum

Memanusiakan manusia dengan Scrum

Scrum adalah kerangka kerja, bukan metodologi. Kamu bisa lihat definisi lengkap Scrum di Scrum Guide. Scrum tidak mengatur bagaimana cara dalam menyelesaikan permasalahan yang kompleks atau membuat sebuah produk tapi scrum mengatur proses kerja agar orang-orang didalam tim bisa belajar dan mencari cara bagaimana menyelesaikan permasalahan kompleks dan mengembangkan produk serta meningkatkan kreatifitas dan produktifitas orang-orang didalam tim.
Jika kamu bekerja dalam tim ataupun organisasi apalagi kamu adalah seorang pemimpin maka kamu perlu ingat bahwa semua rekan, atasan, karyawan, pelanggan kamu adalah manusia. Jadi mereka sudah selayaknya diperlakukan sebagai manusia. Mungkin sangat tidak manusiawi jika kamu memperlalukan mereka layaknya sebagai mesin atau robot misalnya memaksakan perintah yang tidak tau apa tujuan, manfaatnya bahkan yang mengerjakan perintah tidak diberi kesempatan untuk bertanya, berfikir dan mencari tau. Pokoknya ya kerjakan sesuai perintah, kalau tidak kamu akan dicap sebagai karyawan yang buruk.

Lingkungan kerja tidak manusiawi

Silahkan baca selengkapnya disini…

Bukan Scrum

Bukan Scrum

Belakangan cukup sering terdengar orang membicarakan Scrum hingga sempet terpikir “Se-hype ini kah Scrum sekarang?”. Ini jelas berbeda jauh jika dibanding tahun sebelumnya. Orang-orang masih sangat awam dengan istilah “Scrum”. Namun apakah ketenaran Scrum saat ini (setidaknya saat tulisan ini dibuat) berbanding lurus dengan pemahaman orang tentang Scrum yang sebenarnya? lalu…

Bagaimana Scrum yang benar?

Silahkan baca selengkapnya disini…

Indonesia kurang orang yang jago coding, kenapa?

Indonesia kurang orang yang jago coding, kenapa?

Belakangan lagi ramai diperbincangkan dibeberapa forum diskusi programmer yang saya ikuti terkait pernyataan bahwa di Indonesia kurang yang jago coding. Banyak yang tidak setuju tapi banyak juga yang setuju, mungkin ya karena masing-masing punya ukuran “jago coding” yang berbeda. Saya pribadi merasakan betapa sulitnya hiring programmer / software developer yang memang mumpuni bahkan yang freshgaduate sekalipun.

Read More “Indonesia kurang orang yang jago coding, kenapa?”

Scrum dan Perubahan, apa hubungannya?

Scrum dan Perubahan, apa hubungannya?

Kita tentu cukup sering mendengar (atau membaca) hal tentang “perubahan”. Banyak yg menginginkan perubahan baik itu untuk diri sendiri maupun organisasi atau lingkungan kerja. Ada juga orang yang anti perubahan, senang berada di zona nyaman dan status quo karena melakukan perubahan itu sendiri tidak mudah apalagi menyangkut banyak orang.

Read More “Scrum dan Perubahan, apa hubungannya?”